Majalah Suara Mahasiswa UI, No. 23, Tahun XIV, 2007, hlm 48-50

Bangsa Melayu dikenal malas dalam bekerja. Alam sudah menyediakan semuanya. Ketika mengunjungi Thailand Selatan, saya menemukan tanah yang subur dan udara yang baik. Sehingga, buah-buahan di perbatasan dengan Malaysia selalu tersedia dalam ukuran besar. Bukan hanya duren, tetapi juga nanas, pisang dan apa yang dikenal dengan buah-buahan “Bangkok” lainnya. Salah satu alasan Pattani, Narratiwat dan Yala ingin lepas dari Thailand adalah kekayaan alam itu. Dan mereka bekerja dan berjuang dengan beragam cara.  Bekerja mungkin sudah menjadi rutinitas bagian sebagian besar umat manusia. Pekerjaan itu terbagi dua. Pertama, leher keatas, alias pekerjaan bagian kepala, entah otak, mulut, mata atau telinga dan tengkorak. Pekerjaan ini biasanya elitis, seperti pemikir, sastrawan atau politikus. Kedua, pekerjaan leher ke bawah, alias sering disebut sebagai pekerja kasar. Biasanya menjadi petani, nelayan atau atlet. Tetapi, kepala juga bisa memikul beban, sebagaimana tangan untuk menulis dan mengukir.  Dalam dunia moderen, pekerjaan dikaitkan dengan sistem kontrak. Ini tidak terlepas dari beragam teori tentang kontrak sosial dalam ranah negara. Seorang presiden hanyalah pekerja kontrak selama semusim, yakni lima tahun di Indonesia dan empat tahun di Amerika Serikat. Majikannya: rakyat. Tapi,sering justru rakyat menjadi pelayan dan presiden adalah tuan. Penerima kontrak membajak isi kontrak. Demokrasi memberikan kesempatan untuk tidak melanggengkan kontrak itu, karena harus dikoreksi lewat pemilu.  Dengan sistem kontrak, tesis majikan dan buruh mendapatkan tempat. Stratifikasi sosial terbentuk. Maka, istilah pekerja atau buruh tinggal menjadi hubungan subordinatif dengan boss, tuan atau majikan. Kenapa pekerja hadir? Tentu untuk mendapatkan upah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup: bertahan di dunia yang ganas dan garang sebagai manusia. Untuk upah itu, pekerja-pekerja malah menyerahkan segalanya, bahkan cita-citanya.  ***  Bekerja jelas bukan tujuan dalam hidup. Ia hanyalah alat. Apakah menjadi menteri atau anggota parlemen itu sebuah pekerjaan dengan imbalan upah? Bisa iya, bisa juga tidak. Sebagian besar pengusaha yang masuk dunia politik bahkan menjadikan politik itu sebagai hobi saja atau ajang aktualisasi diri. Berapa sih gaji seorang presiden atau menteri, dibandingkan dengan penghasilan sejumlah pengusaha yang mandiri? Jaraknya jomplang. Saya mengenal banyak orang yang penghasilannya melebihi presiden, tetapi tetap tidak ingin menjadi presiden atau masuk ke dunia politik.  Tetapi ada juga orang yang terus-menerus bekerja tanpa upah memadai. Pekerjaan paling mudah adalah menjadi pengemis atau peminta-minta. Dan saya banyak menemukan mereka, tetapi bukan di jalanan. Mereka ada dalam birokrasi pemerintahan atau menjadi elite di mata publik. Mereka mengemis sambil menangis untuk dapat jatah sebagai seorang menteri atau anggota parlemen. Para pengemis berdasi itu barangkali tidak peduli pada martabat dirinya sendiri, apatah lagi martabat bangsa.  Ada juga bangsa yang mengemis kepada bangsa lain. Indonesia pernah mendapat julukan sebagai bangsa pengemis itu, baik terhadap IMF, Bank Dunia atau negara-negara lain yang lebih kaya. Bentuknya: pinjaman alias hutang. Bahkan para pejabat IMF dan Bank dunia juga sering heran dengan penampilan para pengemis di Indonesia itu, karena datang dengan kendaraan mewah dan tidur di hotel berbintang. Sementara yang memberi pinjaman berperilaku sangat sederhana. Setelah mengemis, bukannya bekerja berdasarkan pekerjaannya, melainkan tidur pulas atau menikmati rente dan prosentase tertentu.  Dalam buku Daoed Joesoef berjudul “Dia dan Aku”, bahkan terdapat juga julukan untuk Bu Tien Soeharto sebagai Mrs atau Madame Ten Percent. Ketika anggaran departemen pendidikan dan kebudayaan meningkat drastis, seseorang yang mengaku utusan Bu Tien pernah diusir dan dibentak oleh Daoed. Bu Tien sendiri pernah becanda, “Pak Daoed kan duitnya banyak. Bagi, dong!” tetapi Daoed menganggapnya sebagai gurauan seorang first lady. Bu Tien tentu seorang peminta untuk kepentingan pembangunan TMII, misalnya, tetapi jelas bukan seorang pekerja.  ***  Era demokratisasi dan good governance sekarang tidak lagi mentolerir seorang pengemis dalam ranah negara. Yang dibutuhkan tentu para pekerja yang kreatif. Dunia pendidikan tidak akan pernah menghasilkan para pekerja seperti itu. Jauh lebih banyak saya menemukan para sarjana yang menganggur, ketimbang lulusan sekolah menengah atau sekolah dasar. Mereka pergi ke kota, lalu menjadi pengemis di dalam keluarga sendiri, lalu bermimpi mendapatkan pekerjaan hanya dengan status kesarjanaannya. Rupa-rupanya, seiring dengan peningkatan status sebagai golongan minoritas kreatif atau kaum intelegensia, semakin malas seseorang memegang cangkul. Maka, pendidikan menghasilkan para pemalas.  Dulu, Syed Husein Al-Attas menulis buku berjudul “Mitos Pribumi Malas”. Ia menduga bahwa mitos itu adalah bentukan kolonial, termasuk sistem pendidikannya. Kini, Malaysia justru mengalami kemajuan fisik dan material yang besar, tetapi unsur malasnya masih ada, yakni tidak kreatif menciptakan lagu untuk iklan, sehingga mengambil dari Indonesia. Tetapi, apa itu layak dijadikan sebagai sasaran kemarahan? Tidak juga. Sebagian besar kaum Melayu Malaysia berakar di Indonesia, sehingga tidak ada persoalan dengan klaim-klaim itu, sebagaimana dengan bangsa Eropa mengklaim berakar pada tradisi Yunani.  Ketika anda membagi-bagi jenis pekerjaan sebagai bagian dari status sosial, maka anda sebetulnya sedang mengabadaikan mitos tentang kemalasan kultural ras Melayu itu. Bekerja jelas ada unsur tanggungjawabnya. Semakin pekerjaan itu berhubungan dengan orang banyak, maka semakin besar tanggungjawab sosial yang dimiliki. Kalau anda punya perusahaan yang memperkerjakan ribuan pekerja, sungguh malang sebetulnya nasib anda, mengingat anda memikirkan periuk nasi puluhan ribu orang. Seorang pekerja pastilah memiliki keluarga.  Para mahasiswa sebetulnya memiliki banyak kebebasan untuk memilih pekerjaan, bahkan sebelum lulus. Ada banyak cara, termasuk memicu dan memacu adrenalin pribadi dengan pekerjaan-pekerjaan yang berlandaskan kepada hobby. Lagi dan lagi, saya menemukan kawan-kawan seangkatan justru mendapatkan kesuksesan dengan hobi pribadi, bukan oleh status kesarjanaan yang disandang. Rata-rata, tidak ada yang mau menjadi kelas pekerja, melainkan menjadi majikan untuk diri sendiri, sekalipun dengan hasil yang minimal.  Jadi, bekerja bukanlah beban. Ia juga tidak harus menjadi status dalam sebuah daftar riwayat hidup. Bekerja adalah nafas hidup itu sendiri. Ia memberi makna pada apapun. Bahkan ibu rumah tangga memiliki beban pekerjaan yang besar, dari pagi ke pagi, mulai malam ke malam, untuk mengatur sebuah organisasi yang bernama keluarga. Kalau pekerjaan bukan lagi sebuah beban, bagaimana bisa kita merasa harus mendefenisikannya dengan segala jenis pembatasan?  “Jalankan saja apa yang menjadi dasar keyakinan anda yang anda pikir berguna buat orang banyak. Maka dunia akan berkonspirasi membantu anda dengan sesuatu yang mungkin anda tidak pernah bayangkan. Uang? Bukan masalah,” begitu kata seorang teman saya..

Iklan