Selasa lalu tanganku berdarah. Hanya luka kecil yang kudapat di kamar kecil kantorku, setelah suara azan. Rupanya, kran sedang diperbaiki. Ubinnya masih terbuka. Waktu aku menyuci tangan, tanganku tergores, pada jari telunjuk, ruas kedua. Luka kecil itu seakan menemani luka-luka lain. Tanganku memang penuh luka, sebagaimana kakiku dan mukaku. Luka kenakalan masa kecil. Luka sebagai anak petani. Luka karena luka.  

Anehnya, kalau luka-luka lain hanya berumur sejam-an, maka luka ini bertahan lama, lebih dari 12 jam. Dalam hal apa? Aliran darahnya. Aku kuliah pukul 13.00 lewat. Sebelum ke kampus, kubalut lukaku pake handyplas. Selama kuliah, luka tetap mengalirkan darah. Lumayan banyak, hingga harus sering keluar kelas, mengelapnya di kamar mandi, bahkan juga minta tissue pada teman sekelas.  Teman-teman sekelas yang melihat lukaku menyatakan macam-macam. Ada yang bilang karena penyakit susah sembuh yang kulupa istilah kedokterannya. Orang kantorku juga menyebut: “Mungkin karena puasa.”  Aku juga bingung, kenapa luka itu tetap mengalirkan darah. Merah, tentu, setelah itu mengental, kalau handyplas dibuka.  

Dengan luka itupula aku ikut acara Rapat Kerja Terbatas Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) di Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Acara yang dimulai sejak siang itu terlambat kuikuti. Maklum, kuliah. Kata sakti yang dimaklumi oleh siapapun. Dengan kata itu, aku bisa tidak datang ke kantor bahkan seharian, atau menolak undangan seminar dan diskusi di Jakarta dan luar kota.  

Soal Wantannas, sudah lama juga aku tidak diundang. Terakhir, seingatku, aku tidak memberikan jawaban ketika diundang dalam soal nuklir. Mana aku paham soal nuklir dan seluk-beluknya. Tentu, aku sadar, kalaupun datang, pendapatku tidak akan keluar dari apa-apa yang kuketahui, misalnya dampak sosial dan politik nuklir. Tetapi, aku memutuskan tidak datang, mungkin dua tahun lalu. Sejak itu aku tidak pernah lagi diundang. Seperti biasa, kalau acara Wantannas, terdapat banyak jenderal, juga para pejabat eselon satu dari pusat, ilmuwan universitas di Jakarta dan kota-kota lain, serta juga orang-orang bisnis dan politik.

Dulu, seingatku, ketika ada kegiatan Wantannas di Hotel Indonesia – sebelum direnovasi–, aku satu kelompok dengan Said Didu. Belakangan, dia menjadi Sekretaris Menteri Negara BUMN. Satu kali aku ketemu lagi dengan pejabat itu dengan kehangatan serupa, dalam kegiatan refleksi akhir tahun PT PLN. Untunglah terlalu banyak anggota kelompokku yang ingin menyampaikan pikiran-pikirannya seputar reformasi birokrasi. Aku hanya bicara sesekali. Lagipula, menurutku, cara penyampaian saran versi Wantannas ini lebih berupa penyamaan pendapat, bukan pertentangan gagasan.

Dan selama acara itu, aku sibuk dengan lukaku.  Jelang buka puasa, aku beli lagi tensoplas, juga betadine. Tetapi lukaku tetap mengalirkan darah. Pas berbuka, orang hotel sampai heran karena tissue di meja makanku penuh darah. Beberapa orang di lift juga bertanya tentang luka dan darah yang tak berhenti mengalir itu.  

Aku juga datang ke petugas klinik hotel, diantar petugas, karena letaknya ada di lorong para pegawai. Hm, setidaknya aku tahu, selain ruangan yang rapi dan bagus yang dilalui para tamu hotel, terdapat juga lorong-lorong karyawan yang panas dan jauh. Karena sedang sholat maghrib, si petugas tidak di tempat. Ia akhirnya datang ke ruanganku, membalut lukaku. Ia memberi tips: “Kalau ada darah mengalir dari luka, maka teruslah tekan luka itu pakai kapas, pada kesempatan pertama, sampai darah berhenti mengalir.” Tips ini terasa baru, tetapi sejak kecil aku diajari ayah agar segera menghisap luka pakai mulut, berkali-kali, serta meludahkannya. Karena puasa, aku hanya menaruh ludah di luka itu, tidak menghirupnya pakai mulut.  

Acara masih berlangsung sampai malam. Dan aku tetap bersama lukaku. Tidak perih dan pedih, tetapi di bekas balutan itu, aku terus melihat darah yang mengalir. Istriku wanti-wanti agar aku segera pulang. Ketika kutanya mau dibawain apa, Ia hanya menjawab:”Aku hanya ingin mengobati luka udo, segera.”  

Ya, aku akhirnya pulang, setengah 12 malam. Yang pertama kulakukan adalah membuang balutan si petugas klinik, istriku menyiramkan minyak tawon yang kubeli di Makasar– kegemaran keluarga sejak Afzaal bayi –, serta membuka laptop lagi. Tapi, luka itu tetap mengalirkan darah.  Sebelum tidur, istriku kembali mengganti pembalut pada lukaku, sambil menyiramkan minyak tawon.

Dengan itu, aku tidur. Kelelahan sejak pagi membuat aku tidak peduli lagi, selain menaruh tangan di atas kepala agar tidak tergesek badan.  Pas sahur, luka itu berhenti mengalirkan darah. Pembalutnya entah kemana. Yang jelas, ada bagian tubuhku yang panas terkena minyak tawon itu.  Herannya, pagi harinya, luka itu tetap mengalirkan darah. Di kampus, aku mengambik keputusan: melepas pembalut dan membiarkan luka menganga. Mujarab, pelan, darah kental yang mengalir menutupi luka itu. Tidak lagi mengalir.  

Sungguh, ini pengalamanku dengan luka bulan puasa yang darahnya lebih dari duabelas jam mengalir. Mungkin tidak banyak darah yang keluar, mengingat lukanya kecil. Menurutku, luka itu terus mengalirkan darah karena terletak pada bagian paling rumit di ruas jemariku, tempat pertemuan saraf-saraf dan aliran-aliran darah kecil. Luka bulan puasa. Kecil, tetapi tetap mengalirkan darah. Sekarang, luka itu sudah mengatup. Ia hanya meninggalkan satu bekas luka lagi, dari begitu banyak luka di tubuhku…

Iklan