Minggu pertama bulan Ramadan ini diisi dengan diskusi di milis tentang toa. Kebetulan, aku menemukan satu cerpen yang ditulis di Koran Sindo edisi minggu (16/09) dengan judul “Suara-suara Keramat” yang ditulis oleh Taufiq Sutan Makmur. Pastilah penulisnya orang Minang yang sudah menikah, karena gelar Sutan (Sultan) yang dia peroleh. Ketek banamo, gadang bagala (kecil bernama, dewasa bergelar), sebagaimana pepatah adat Minangkabau. Kisah yang ia tulis terasa nakal, tentang kehadiran suara azan atau bacaan Al Qur’an dari seorang tua di mesjid (surau) dekat rumah tokoh ceritanya.  

Aku sungguh tidak ingin masuk ke wilayah diskusi, apakah toa telah memberi manfaat atau mudarat. Menurutku, jawabannya relatif. Kalau tidak ingin terusik, ya, tinggal menggunakan kapas di kedua lubang telinga. Aku sendiri tidak terpengaruh dengan bunyi toa, karena rumah mertuaku berhimpitan dengan mesjid kecil. Kadang, kalau hari minggu, kudengar mertua perempuanku sendiri yang mengaji, bersama anggota majelis ta’limnya. Kadang, rumah keluarga mertuaku penuh dengan para ibu-ibu yang sedang belajar mengaji, ketika aku pulang kerja agak pagian (jam 19.00). Karena tidur dan bangun menurutku tergantung pikiran dan niat, maka aku bisa dengan mudah bangun pagi, sebelum subuh, terutama kalau aku harus naik peswat pagi-pagi. Afzaal, istriku dan mertuaku juga sudah terbiasa melakukan ritual itu, mengantarku ke bandara pagi-pagi sekali, usai shalat Subuh.  

Aku menulis soal toa ini karena teringat kampung halamanku. Dulu, belum ada listrik masuk kampungku. Letak kampungku di seberang sungai menyulitkan pembuatan tiang-tiangnya. Kalaupun mengambil dari kampung lain, harus mendaki lereng-lereng bukit penuh pohon kelapa. Listrik baru menyala pada tahun 2002, dua tahun setelah aku masuk CSIS. Itupun atas jerih payah semua orang, terutama ayahku yang memberikan jaminan. Maka, rumah kami di kampung jadi pusat listrik dan diambil atau dibagi ke rumah-rumah tetangga. Karena jarak antar rumah berjauhan dan jumlahnya sedikit, maka listrik sedikit saja sudah luar biasa berguna.

Sayangnya, sejak ada listrik, justru televisi masuk, radio datang, VCD menerjang, serta maksud awal untuk meningkatkan produktifitas ekonomi kampung tidak tercapai.  Rencana ayahku untuk menggunakan listrik bagi kepentingan penetasan ayam kampung tinggal rencana. Barangkali karena usianya yang sepuh. Dulu, hampir seluruh inovasi di bidang peternakan dan pertanian dilakukan ayahku, walau hanya sekali. Sebagian besar gagal, lalu dilakukan inovasi bidang lain. Entah beternak lele dumbo, menanam buah melon, melakukan intensifikasi pertanian dengan cara menjadikan tanaman padi sekaligus tempat menebarkan ikan mas, dan lain-lain. Ayahku biasanya tidak mengulangi lagi, walau sejumlah evaluasi sudah didapat.  

Ketika toa belum ada, surau dan mesjid mengandalkan accu. Maka, kalau ada kegiatan yang berskala besar, akan dibentuk kepengurusan, termasuk yang bertugas membawa accu ke tempat pengecasan. Surau biasanya milik suku (kaum). Surau kaum piliang ada di Kampung Tangah, sedang surau milik suku tanjung dekat rumahku di Durian Kadok, karena kami dikelilingi oleh tetangga dari suku tanjung. Belum lagi surau buat suku Chaniago, Jambak, dan lain-lain. Sedangkan mesjid untuk kegiatan Jum’atan atau Maulud Nabi. Isra’ Mi’raj dan Nuzul Qur’an biasanya dilaksanakan di surau.  Dengan kegiatan-kegiatan itu, kompetisi antar surau terjadi.

Sudah menjadi kebiasaan sumbangan berapapun diumumkan jumlahnya dan diberikan oleh siapa. “Seribu rupiah dari Uniang Taba! Tigaratus rupiah dari Sidi Leman! Limaratus rupiah dari si Mancan nan sedang sekolah di Padang! Sepuluh ribu rupiah dari si Udin nan baru pulang dari Medan!” Biasanya, semua mata dan telinga akan mengarah kepada nama-nama anak-anak muda yang pulang dari rantau pada bulan puasa. Mereka sudah dikenal dengan kebiasaan memberikan sumbangan besar pas pulang, tapi juga segera ketahuan pas berangkat lagi ke rantau akan mencari modal dengan cara menurunkan buah kelapa orangtuanya, bahkan meminjam uang tetangga. Sudah kebiasaan juga bahwa orang selapau (sewarung) akan ditraktir semuanya, kalau anak rantau pulang. Kalau aku pulang, biasanya aku keliling dari satu lapau ke lapau lain untuk mentraktir semua makanan dan minuman orang-orang. Murah meriah dan yang penting tidak diomongin menghitung jumlah kentut ibu di rumah.  

Kalau orang kota bosan dengan bunyi toa, maka di kampungku justru suara toa dicari. Anak-anak muda biasanya mencatat baik-baik surau-surau mana saja yang mengadakan kegiatan. Baju terbaik disiapkan, baik oleh lelaki atau perempuan. Dan, saudara-saudara, tentu tujuan utama bukan (hanya) pengajiannya, tetapi lebih banyak melirik kembang-kembang desa yang hanya datang pada hari-hari khusus itu. Tidak setiap hari sang lelaki desa, baik yang di kampung atau anak rantau, bisa melihat atau menatap gadis-gadis desa. Kalaupun ada waktu khusus untuk saling tatap-menatap itu adalah hari Sabtu, ketika hari pasar. Maka, akan banyak sekali anak-anak lelaki duduk-duduk di dekat lapau pinggir sungai, sambil main kartu remi atau domino. Cukup memesan secangkir kopi, lalu bisa menambah air panas lagi, kalau sudah habis.  

Pemenang lomba mengaji biasanya satu keluarga saja, turun-temurun. Sedangkan keluarga yang lain sesekali bisa juara. Dan tahu sendirilah bahwa anak-anak gadis tercantik tidak pernah menang, walau ia menjadi incaran banyak lelaki. Karena tempat duduk para bujangan dan anak-anak gadis dipisahkan oleh orang-orang tua, maka yang terjadi hanyalah lirik-lirikan, sambil cengengesan atau saling cubit. “Eh, dia lihat kesini. Waduh, cantik nian dia dengan kerudungnya!” dan ucapan-ucapan yang lain. Biasanya yang mengajukan ucapan itu adalah lelaki yang lebih tua untuk menggoda yang muda.  

Ceramah di kampungku tidak seperti ceramah di kota. Yang diuraikan oleh para guru adalah cerita-cerita zaman dulu. Entah benar atau tidak cerita itu, justru yang penting adalah moral ceritanya. Maka imaji remajaku dipenuhi dengan cerita tentang jin, kuda terbang, nabi Khidir, dan cerita-cerita lain. Kadang, diselipkan bunyi Al Qur’an dengan lafal yang indah dan pas. Mendengarkan ceramah di kampungku sungguh tidak membosankan, selain pikiran juga dipenuhi oleh tatapan-tatapan atas para gadis yang tersipu di pojok seberang.  

Toa tidak dibenci di kampungku. Toa malah dinanti. Justru kalau terjadi musim paceklik, antara lain ditandai oleh hasil tani yang dimakan hama atau anak-anak rantau jarang yang pulang, maka toa sungguh menjadi sakral untuk dinanti karena tidak terdengar juga.  Tetapi, lama kelamaan, toa tidak lagi seperti masa remajaku, setelah lebih banyak kaset dan vcd yang masuk. Petugas mesjid lebih senang memutar ceramah-ceramah dari antah berantah untuk didengarkan oleh orang-orang. Lagu-lagu khas padang pasir juga diperdengarkan lewat toa.

Dulu, kami merindukan yang menyanyi itu adalah sekelompok anak muda dari desa atau dusun tetangga. Atau kami sendiri di masing-masing surau berlatih menyanyikan untuk dibawakan pada acara-acara penting itu.  Tanpa listrik, kami punya kesempatan untuk mengantarkan atau mengawal anak-anak gadis ke rumahnya, walau ia sudah bersama ayah-ibunya. Ada perasaan tertentu kalau tempat-tempat yang dilewati dikatakan penuh hantu atau harimau jadi-jadian. Soalnya, bisa lebih dekat dengan gadis yang dikawal atau bahkan bisa berbicara sepatah dua patah kata.

Tanpa listrik, aku dan keluargaku juga sering mencari ikan di sungai pakai petromak. Ada udang, ikan-ikan kecil, gabus atau apa saja yang ada di sungai. Pulang dari mencari ikan perut lapar kembali, lantas ikan-ikan itu dibakar sebagian, tinggal dikasih garam atau cabe, serta nasi sisa makan malam.  

Bulan puasa, sungguh keramat bagi kami, dulu. Sekarang? Aku tidak tahu lagi, bagaimana memaknai puasa, selain menahan untuk tidak makan dan tidak minum di siang hari. Bukan menahan lapar dan haus, karena toh perut juga tidak lagi lapar atau tenggorokan tidak terasa haus, walau tidak makan dan minum. Apakah ini yang disebut dengan sekadar ritual? Ataukah semangat relegius yang terkikis karena puasa dilakukan di kota, dimana segala hal tidak lagi menawarkan eksotisme liar pikiran masa kanak-kanak.

Kalau sudah begitu, terkadang aku menyesali juga, kenapa kemajuan justru membuat orang-orang kehilangan atas masa lalunya. Toa, listrik, televisi, handphone, pesawat terbang, atau segala jenis kemudahan lain, justru telah menanggalkan banyak baju kemanusiaan kita. Sungguhkah ini yang disebut sebagai problem manusia kota atau masalah manusia moderen? Entahlah… Jakarta, 19 September 2007

Iklan