Tulisan menghibur dari Prof Mahfud MD. Menciptakan banyak kemungkinan. Mungkin ini, mungkin itu…

 

Seputar Indonesia, Rabu, 5 Septembr 2007 Keanehan Seleksi Anggota KPU

oleh

Prof Dr Mahfud MD

 

Pekan lalu, karena terpengaruh oleh gugatan Indra J Pilliang atas hasil seleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) 2007 ke PTUN,saat memberi kuliah di pascasarjana UGM, para mahasiswa menggunjingkan kemungkinan tidak diluluskannya dengan sengaja orang-orang tertentu pada tes dalam seleksi calon anggota KPU itu.

 

Meskipun pada setiap tes itu biasa ada yang lulus dan tidak lulus,mereka heran, tes tersebut menghasilkan orang-orang yang tak pernah dikenal tapi sekaligus menggugurkan semua nama beken yang dianggap layak membenahi KPU. ”Masak, dari sekian banyak nama beken tak satu pun lulus. Mungkinkah ada kesengajaan tidak meluluskan nama-nama beken itu?” celetuk beberapa mahasiswa.

 

Penidaklulusan Tes

 

Penidaklulusan itu mungkin ya, mungkin tidak. Selain menentukan secara obyektif, sebuah tes memang bisa dengan sengaja meluluskan atau tidak meluluskan orang, tergantung pada yang melakukan tes. Saya dapat memberi contoh tentang ini. Amri adalah mahasiswa yang pandai. Academic record-nya nyaris sempurna dengan indeks prestasi kumulatif hampir mendekati 4,00. Karena kecintaannya pada dunia akademik, setelah lulus sarjana, dengan predikat cum laude, dia melamar untuk menjadi dosen di almamaternya. Tapi, seorang dosen penguji untuk perekrutan calon dosen itu tidak menyukai Amri. Amri dianggap terlalu arogan karena saat kuliah kerap mencecar sang dosen dengan pertanyaan yang tak mudah dijawab.

 

Saat ujian lisan dalam mata uji Ilmu Politik, Amri yang memang pandai dapat menjawab semua pertanyaan dengan hampir sempurna. Sejarah pemikiran politik klasik sampai zaman modern dijelaskannya dengan sempurna. Judul dan isi buku-buku penting dielaborasi dengan baik.Teori Machiavelli, Aristoteles, Plato, John Locke, dan yang lain-lain diuraikan dengan tuntas. Dosen penguji yang tak menyukai Amri itu mencari akal untuk tidak meluluskannya.

”Baik, kalau bisa menjawab dua dari tiga pertanyaan tentang teoretikus politik ini kamu lulus,” kata sang dosen. ”Siapa nama kakeknya Plato?” tanya sang dosen. Amri tak bisa menjawab.” Jam berapa Machiavelli dilahirkan?” tanya sang dosen lagi. Lagi-lagi Amri tak dapat menjawab.

 

”Menghadap ke arah mana rumah John Locke?”tanya sang dosen lagi.Yang ini pun tak dapat dijawab oleh Amri. Akhirnya Amri dinyatakan tidak lulus karena memang sengaja diuji dengan pertanyaan yang tak mungkin dijawab. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak ada di dalam buku-buku yang terkait Plato, Machiavelli, dan John Locke yang pernah dibacanya. Jadi, Amri sengaja tidak diluluskan dengan jebakan pertanyaan ”sepele” yang tak diketahuinya karena sama sekali tak penting untuk diketahui.

 

Bagaimana Seleksi di KPU?

 

Selain menggunakan ukuran dan penilaian yang objektif,dengan demikian, seorang dosen atau penguji memang bisa saja sengaja meluluskan atau tidak meluluskan peserta ujian. Dalam seleksi calon anggota KPU yang menghebohkan itu memang mungkin saja peserta tes tertentu sengaja tidak diluluskan melalui jebakan dengan soal-soal sepele dan tidak penting. Sebagai dosen, saya tahu itu mudah dilakukan.Seorang penguji memang bisa menilai dengan ukuran objektif, bisa sengaja tidak meluluskan dan bisa sengaja meluluskan.

Meski dosen dalam bidang hukum, misalnya, saya bisa juga menguji dan tidak meluluskan tes psikologi bagi seorang psikolog top sekali pun dengan soal yang mungkin tak pernah dipikirkannya.

 

Misalnya, saya mengujinya dengan pertanyaan: Berapa orang keponakan Sigmund Freud? Atau: Berapa jumlah tahi lalat Sigmund Freud? Dalam kasus seleksi anggota KPU 2007 saya hanya mengatakan penidaklulusan itu ”mungkin” saja karena memang bisa, kalau mau. Jadi, penidaklulusan itu mungkin ya dan mungkin tidak. Kalau penidaklulusan itu disengaja, tentu rekayasanya tidak sesederhana contoh di atas.

 

Rekayasa bisa dilakukan dengan canggih sehingga tetap ”seolah-olah” objektif.

Rekayasa itu bisa dimulai dari penunjukan panitia seleksi yang tak jelas proses perekrutan dan kriteria penentuannya, yang diajukan begitu saja kepada Presiden untuk diangkat. Para anggota Panitia Seleksi itu di-fait-accompli tanpa mereka sadari untuk melakukan seleksi menurut panduan jebakan tertentu yang tak bisa ditawar.

 

Pembuat tes selanjutnya dipilih dari orang tertentu dengan deal agar orang-orang tertentu bisa tidak lulus.Akhirnya, lahirlah hasil seleksi yang seolah-olah sudah benar, objektif, dan prosedural. Namun, aneh bin ajaib karena berlawanan dengan pandangan dan harapan umum. Harus diingat bahwa permainan rekayasa itu hanya ”kemungkinan,” yang dalam kenyataannya mungkin juga tidak terjadi. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa upaya penidaklulusan orang melalui ujian itu sangat bisa.

 

Karena itu harus diperhatikan juga kemungkinan lain,yakni bahwa hasil tes itu sudah benar, objektif, dan tanpa rekayasa. Berdasar kemungkinan ini, kita harus selalu siap untuk menerima hadirnya tokoh-tokoh baru yang tadinya tidak terkenal tetapi bisa lolos tes dan mampu menyisihkan tokoh-tokoh lama yang menjadi idola banyak orang.

 

DPR Dapat Menolak

Hanya saja, kemungkinan rekayasa penidaklulusan menjadi menguat karena secara common sense memang sangat aneh.Masak tak satu pun dari yang hebathebat dan kritis tidak lulus? Apalagi, banyak di antara yang hebat-hebat itu adalah tokoh baru juga untuk arena KPU.

 

Untuk membangun kepercayaan publik, DPR harus memberi penilaian dan sikap politik atas seleksi calon anggota KPU yang telah berlangsung.Kalau perlu,DPR menolak hasil seleksi itu agar jika ada demagog yang bermain secara diam-diam di balik masalah ini dapat dihadang. DPR mempunyai hak untuk menerima atau menolak calon-calon anggota KPU,yang mungkin merupakan hasil rekayasa penidaklulusan terhadap calon-calon lain yang potensial.(*)

Moh Mahfud MD Guru Besar bidang Hukum dan Anggota DPRRI

Iklan