anda layak membacanya. jarang ada buku bermutu yang memicu adrenalin, tetapi bukan seputar sex. buka saja http://rahasia-meede.blogspot.com/. aku memberikan komentar atas buku itu:
“Sesuatu yang hanya jadi fakta sejarah sebuah bangsa, akan tampak seperti huruf, angka dan peristiwa yang mati. Tanpa makna. Tak bergerak. Membutakan mata. Menghidupkan kembali fakta itu lewat imajinasi yang disusun rapi dan sistematis diiringi gairah dan pesona, serta kejutan adalah bagian dari upaya memperlambat kematian sebuah bangsa. E.S. ITO si peneruka hulu sejarah dan laju zaman, telah mencatatkan diri sebagai novelis tambo modern republik Indonesia, justru ketika elite bangsa ini sibuk dengan kepikunan kolektif: berputar-berputar pada kekinian dan kedisinian…”
itu kukirim via sms, sebelum aku menyelesaikan membaca buku. dalam perjalanan ke Papua, aku memutuskan hanya membaca satu buku itu, agar aku tuntas membacanya. karena ketebalannya, justru aku menamatkan membacanya setelah pulang dari Papua, sebelum tidur. aku berangkat ke Papua Senin (20/8) dan sampai kembali di Jakarta Rabu (22/8). memang singkat, mengingat materi gugatanku harus segera masuk ke pengadilan.
ada banyak hal baru yang harus kukomentari. karena buku ini jelas sekali pembelaannya atas suku-suku pedalaman, suku-suku asli, jauh sebelum Indonesia ada dan kolonialisme datang. Es Ito memberikan penghormatan yang layak atas suku-suku itu: Nias, Mentawai, Dayak, Suku Anak Dalam, dll. soal Sikerei, aku ingat betul, betapa “dukun” suku Mentawai itu berjasa besar dalam menyembuhkan tangan kiriku yang patah ketika kecil, dulu. ayah dan ibuku tidak sempat membawaku ke Padang, karena laut sedang mengganas. karena itu, seorang Sikerei dipanggil, mengobati dan menyembuhkan tangan kiriku. tentu, Sikerei itu merupakan perantara kesembuhan saja dari Allah SWT, sesuai ajaran agamaku.
sampai SMA, aku masih minder dengan tangan kiriku. di sekolah, aku dipanggil si Cengkok, orang yang tangannya tidak lurus. walau masuk paskibraka sekolah dan regu gerak jalan SMA, serta masuk pramuka, tetap saja julukan si Cengkok tidak hilang. Pariaman memang terkenal dengan cemooh-nya. semua orang dipanggil berdasarkan keabnormalannya. kini, aku tidak ada dalam posisi itu. yang kuingat, ada sentuhan Sikerei pada tanganku, dan itu menyembuhkan. apa yang ditulis Es ITO dalam bukunya membuatku menangis. ak tidak tahu lagi sekarang bagaimana nasib suku-suku itu yang dulu kuingat datang dengan buah kelapa, cempedak, durian, dllnya dalam satu perahu, lantas tinggal ditukar dengan beberapa kilogram gula atau produk luar lainnya.
ayahku dulu pernah diberi tanah oleh Sikerei sahabatnya yang setia membelany. kebon cengkeh yang luas, dari pinggir pantai sampai atas bukit. tapi ayahku menolaknya. kadang, ayah menceritakan itu dengan tertawa: “kalian bisa kaya dengan hanya memetik cengkehnya (tanpa mengambil tanahnya).” waktu di Mentawai, aku sering memetik buah cengkeh, dan kami biasa memanjat pucuk-pucuk teratas untuk mendapatkan cengkeh yang bulat (cengkeh bibit).
aku masuk TK di Mentawai. belajar pada orang-orang Philipina. banyak orang asing ke Mentawai, barangkali untuk mendapatkan pohon-pohonnya atau nilai eksotisnya. pertengahan tahun 1970-an, bayangkan. sentuhan peradaban belum banyak masuk. sebagai anak pulau, aku suka berenang, memancing ikan, mencari umang-umang, berburu kepiting…lautan kepiting kecil dan besar di pinggir pantai.
buku ES ITO ini seakan mewajibkan aku untuk kembali kesana. mungkin, untuk menangisinya. dari berita yang kudapatkan, tentu Mentawai masa kecilku tidak akan kembali, sebagaimana kampung masa kecilku. orang menyebut ini kemajuan/modernisme. aku menyebutnya pemusnahan.
ES Ito juga menceritakan kawasan yang kuhuni sejak tahun 1991: kawasan Kota. kawasan yang pertama kali kukenal, karena dulu pertama kali menetap di dekat Museum Fatahillah, tepatnya di pinggir sungai di Jl Kunir yang sudah digusur. disana, bersama kakak-kakakku berjualan Sate Padang. juga kawasan Mangga Besar, Pecah Kulit, dll. sekarang, aku tinggal di rumah mertua: Jl Talib III, juga kawasan Kota. sudah hampir 16 tahun aku mengakrabi kawasan Kota ini, termasuk stasiun-stasiun kereta apinya, lorong-lorongnya, dan … kehidupannya.
tentu, cerita yang ditulis Es Ito tentang Pecah Kulit dllnya itu sudah bagian dari mitologi masyarakat setempat, terutama orang-orang tuanya. Ito menjadikannya sebagai novel yang indah, menarik dan galant. novel yang trengginas.
juga ada cerita tentang Papua. jangan lupa, To, di Papua juga banyak mitos. hampir semua suku dari 314 suku di Papua memiliki mitosnya sendiri-sendiri. sudah lebih lima tahun aku bersentuhan dengan masalah-masalah Papua, semakin tenggelam kisah-kisah hebat di masa lalu yang teramat dekat itu. aku bersaksi: jangan sampai Papua hilang ditelan gelombang zaman. di harian Seputar Indonesia kemaren (27/08), dalam tulisan Selamat Datang Mendagri Baru, kusisipkan kalimat berikut: “Daerah yang paling banyak diincar sekarang adalah Papua, terutama oleh kekuatan modal. Isu-isu yang berhembus dari Papua dan kekuatan yang akan datang ke Papua akan meningkat terus, seiring dengan habisnya sumberdaya alam dan ekonomi di Kalimantan dan Sumatera.”
ada banyak misteri lain yang diceritakan Es Ito dalam novelnya ini. sekali lagi, aku merekomendasikan untuk anda. ya, anda bisa saja menyebut CSA=CSIS, atau sosok-sosok yang dia ciptakan. anda bisa juga mereka-reka, tentang nama-nama yang dia tulis. beruntung aku mengenali anak ini, karena dia juga bekerja di Yayasan Harkat Bangsa Indonesia, dimana aku didaulat sebagai Direktur Eksekutif-nya. mudah-mudahan, tidak lama lagi, aku bisa meninggalkan jabatan itu dan menikmati lagi novel-novel ES ITO berikutnya..
YHB Indonesia, 28 Agustus 2007, 20:20…

12 comments
Comments feed for this article
Agustus 29, 2007 pada 3:38 am
Syam
Salam kenal Pak…
Pak Indra juga jago nulis nih… Hayo Pak, anda juga berbakat sebagai seorang sastrawan. Kupasan dan tulisan anda di blog ini bernas, dah sudah tentu punya nilai dan gaya sendiri.
Ditunggu nih karyanya..:)
Wassalam
Syam
http://hensyam.co.nr
Agustus 29, 2007 pada 1:18 pm
telmark
bernosnalgia dgn sebuah kampung halaman yg sama sekali berubah, memang kadang menyedihkan. sepertinya kita merindukan sesuatu yg mau tdk mau akan berubah dgn sendirinya.
salam.
September 19, 2007 pada 8:46 am
Anonime
Saya cari bukunya di Gramedia dan Gunung Agung kok gak ada ya ? Sudah terbit apa belum ? Atau beli di mana ?
September 19, 2007 pada 9:29 am
indrapiliang
iya, belum diedarkan i gramedia atau gunung agung. kata penulisnya, baru minggu ini selesai cetak. mudah-mudahan minggu depan sudah ada. ijp
Oktober 1, 2007 pada 9:24 am
Ncis
Sudah dijual koq bukunya, mantap banget neh buku2 dari E. S. Ito setelah sbelumnya dengan buku negara kelima yg menurut saya juga menawarkan kisah lokal dengan nuansa berbeda serta ditulis melalui sebuah penelitian
Oktober 3, 2007 pada 1:10 am
Yan
Sudah baca, kalau berminat membaca pendapat saya tentang novel ini, silahkan lihat di http://daunsalam.net/umum/rahasiameede.htm
Januari 27, 2008 pada 1:03 am
agung
Wah resensi Indra bagus banget, selain memang bukunya sudah bagus ditambah resensi Indra jadi membuat lebih bagus. Salut buat Indra dan ES ITO dan Yayasan Harkat Bangsa Indonesia
AGUNG CINTA
Maret 11, 2008 pada 5:51 am
elsya crownia
saya sebagai penulis pemula pernah mengulas karya E.S Ito, tetapi saya masih merasa banyak kekurangan dalam menulis, meskipun sudah begitu banyak puisi dan buku yang dibaca. Bukunya cukup bagus, serta membangun kembali ingatan kita pada sejarah yang telah lama terbenam, menggali sejarah lewat fiksi dan melihat keadaan zaman dalam fiksi. Namun, fiksi tetaplah cerita fiksi meskipun ada lembaran-lembaran data sejarah.
Maret 25, 2008 pada 8:23 am
yos satria
kepada rekan2 , saya referensikan novel sejarah ini sebagai bagian dari wacana intelektual karangan ES. ITO yang menggali dan memaparkan perjalanan sejarah bangsa dan kompleksitas yang muncul dalam setiap episode novel ini yang dapat memberikan pandangan baru arti sebuah peradaban baik secara budaya maupun ideologi bagi anda pembacanya adn mengambi hikmah perjalanan sejarah masa lampau untuk melangkah ke depan.
Maret 27, 2008 pada 8:57 am
apik
uda indra, esito kayaknya banyak memakai tan malaka dalam penokohan karakternya. apa yang seharusnya kita teladani dari nama itu?saya hanya perwakilan generasi ahistoris uda.
Juli 12, 2008 pada 1:42 am
desi
Indra, semalam ES Ito ngobrol-ngobrol santai bareng kita di Sekretariat ILUNI UI, Salemba.
Aku lagi nulis dan edit foto-fotonya, mohon dikunjungi ya… http://www.iluni.org
Salam,
Desi – Elektro’93
Juli 30, 2008 pada 4:22 am
jajang
blog walking. . .
salam kenal Pak, wah salut buat Pak Indra yang sering saya dengar namanya. mohon perkenan saran Bpk pada coretan saya dunk Pak,,
saya tautkan alamt blog bpk…
thanks