Harian Jurnal Nasional, 26 Juni 2007
Politik itu kotor, puisi yang membersihkannya, begitu adagium terkenal Presiden Cekozlovakia dan Presiden Ceko, Vaclav Havel. Dan, walau terlambat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyonopun berpuisi:
Terbanglah wahai kebebasan
Bersama angin dan burung-burung camar di langit biru
Yang melambai dan terus melantunkan dendang dan salam rindu
Puisi itu dideklamasikan Yudhoyono ketika menghadiri perayaan ulang tahun harian Jurnal Nasional pada 15 Juni 2007 lalu. Tentu, saya tidak hadir dalam acara itu, sekalipun Ramadhan Pohan, sang pemimpin redaksi, mengirimkan undangan via handphone. Namun alangkah sayangnya, peristiwa pertemuan puisi dengan kekuasaan itu tidak diberi makna.
Sebelum Yudhoyono berpuisi, Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa kali bertemu dan berdialog dengan siswa Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Apapun kata orang, pemandangan ini menunjukkan bahwa ada capaian-capaian kepemimpinan baru yang diluar ranah pertarungan politik. Dalam “tradisi”yang dibangun di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat, peristiwa ciuman dan gendongan kepada anak-anak selalu memiliki sensasi humanistik yang tebal di kalangan tokoh-tokoh kerajaan dan para petinggi pemerintahan.
Yudhoyono berpuisi dan Kalla bercengkrama dengan anak-anak adalah puncak-puncak dari perilaku politik bernilai tinggi, dibandingkan dengan interpelasi, reshuffle kabinet, atau pemilu dan pilkada. Dunia politik yang kaku, emosional dan seolah hanya menyangkut soal kekuasaan, telah dilumerkan oleh gelak tawa, wajah kikuk, dan celetukan-celetukan spontan. Yudhoyono dan Kalla berubah menjadi manusia biasa, menjadi orang yang sedang belajar atau kakek yang berupaya menjelaskan dunia yang rumit dengan bahasa sederhana.
***
Kehidupan politik memang telah membuat pengap bangsa ini. Bukan hanya media massa yang menghadirkan potret kehidupan politik dalam menu perdetik dan perhari, tetapi juga orang-orang yang menjadikan politik sebagai satu model mata pencaharian. Atas nama politik, para gubernur dengan wakilnya saling mencari titik kelemahan masing-masing, ketika mereka hendak maju secara sendirian dalam pilkada berikutnya. Para anak dan orang tua akan saling bantah atas nama politik, ketika preferensi mereka berbeda.
Tetapi, kita juga melihat semacam kecanggihan dan kecerdasan di kalangan para elite oligarkis. Mereka melakukan diversifikasi sumberdaya politik di kalangan anggota keluarga dengan cara memasuki partai politik berbeda, berkiprah pada bidang pekerjaan yang tidak sama, bahkan juga memilih ideologi yang berseberangan. Dan itu barangkali atas nama kebebasan yang disuruh terbang oleh Yudhoyono.
Iya, kita tentu rindu pada sosok-sosok yang berpolitik bukan lagi seperti anak kecil yang sedang mempertahankan mainannya. Demi mainan itu, entah bola atau kelereng, sang anak akan terus memangkunya, menjaganya, bahkan sampai membawa ke kamar mandi, tempat tidur serta mimpinya. Mainan itu adalah karma bagi sang anak. Ia mungkin tidak akan mengerti kalau orang tua memandang mainan itu sebagai hak milik, sebagaimana orang-orang tua itu mendefenisikan politik dan kekuasaan.
Bagi seorang pengamat politik, kelelahan utama adalah memberikan analisis atas peristiwa politik yang terlihat berbeda dan baru yang dilakukan oleh aktor-aktor lama. Bagaimana memberikan analisis atas pertemuan 12 menit antara Yudhoyono dengan Amien Rais atau antara Taufik Kiemas dengan Surya Paloh atau antara tokoh-tokoh lain? Peristiwa politik yang mengekor kepada elite politik seringkali hanya sebuah pengulangan atau manuver, bahkan bermakna dangkal, karena yang terpampang hanya foto-foto jabat tangan dan peta baru yang sedang ditoreh.
***
Kenaikan harga minyak goreng adalah keluhan utama kaum ibu. Hanya saja, diskusi yang digelar melibatkan kalangan ekonom dengan bahasa yang sulit dimengerti. Entah mengapa, kaum ibu sendiri jarang diajak untuk membicarakan kesulitan yang mereka hadapi. Sulit dipahami, kenapa “ceruk kemanusiaan” ini tidak dilihat oleh para tokoh dalam membangun komunikasi?
Politik menjadi sunyi dari kehadiran kaum ibu. Bahkan, para ibu yang berada di panggung kekuasaan, baik yang menjadi menteri atau yang menjadi istri dari para menteri sampai presiden, lama-kelamaan juga menggunakan bahasa kaum bapak. Misalnya, memberi perintah untuk menghadapi flu burung atau demam berdarah. Benar, yang bicara adalah kaum ibu, tetapi bahasa yang digunakan adalah bahasa kaum bapak. Politik sangat banyak memberi rasa bosan. Kalau perasaan berkuasa kalangan penguasa merambah juga kepada istri-istri atau saudari-saudari atau putri-putri mereka, barangkali yang terlihat adalah rasa bosan yang menyeluruh. Kehadiran Anissa Pohan, menantu Yudhoyono, dalam acara-acara olahraga memberi sisi manusiawi seorang keluarga dekat presiden. Yang layak diperbanyak adalah perilaku dan model hubungan seperti itu dengan masyarakat luas.
Emha Ainun Nadjib, misalnya, tentu akan merasa gagal ketika anaknya juga melantunkan puisi, menulis esai atau membingkai sebuah peristiwa biasa menjadi pengalaman religi. Maka Ia begitu senang dengan anaknya yang menjadi penyanyi, lalu menghentak anak-anak muda segenerasi. Puisi Yudhoyono mungkin tidak mampu mengikis habis kekotoran dunia politik. Begitupula dialog Kalla dengan kanak-kanak dan anak-anak yang sudah memiliki handphone. Barangkali, anak-anak itu juga dititipin pertanyaan oleh guru kelas atau orangtuanya, sebagaimana terjadi dalam menjawab Ujian Akhir Nasional di Medan via handphone. Anak-anak yang diubah menjadi robot, entah demi apa.
Yang jelas, pertemuan Yudhoyono dengan beberapa penyair senior dan Kalla dengan anak-anak, adalah kehadiran dua dimensi. Yudhoyono adalah penguasa yang selalu bagi seniman menjadi simbol hegemoni. Pertemuan antara kebebasan dengan ketidakbebasan. Kalla adalah masa lalu dan masa kini, sementara anak-anak adalah masa kini dan masa depan.
Dan, semakin banyak para penguasa berpuisi, serta bertemu dengan anak-anak, akan memberi nilai positif bagi negeri ini. Tanpa perlu membuat undang-undang khusus tentang kepenyairan atau tentang anak-anak, langkah-langkah seperti itu memberi oase dalam kedahagaan publik atas kelambanan kinerja penyelenggara negara. Mereka – disana – yang begitu sibuk dengan urusannya sendiri…

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini